Aki merupakan komponen pencatu daya dalam kendaraan bermotor. Sampai saat ini komponen utamanya masih terbuat dari logam timbal (Pb) dan belum ada alternatif yang mampu menggantikannya. Sebagai pencatu daya, di dalam aki timbul reaksi kimia sebagai berikut :
Anoda : Pb(s) + SO4(aq)
2- PbSO4(s) + 2e-
Katoda : PbO2(s) + 4H+
(aq) + SO4(aq)
2-+ 2e- PbSO4(s) + 2H2O(l)
Pb(s) + PbO2(s) + 2H2SO4 (aq) PbSO4(s) + 2H2O(l)
Usaha daur ulang aki bekas telah banyak dilakukan oleh industri rumah tangga dan kecil tersebar di berbagai tempat, biasanya tempat-tempat yang terpencil. Industri daur ulang aki
jarang yang dilakukan oleh industri skala menengah-besar, hal ini dikarenakan usaha menengah-besar memerlukan biaya mobilisasi pengumpulan aki bekas yang besar untuk memenuhi kapasitasnya sehingga dirasakan lebih menguntungkan menerima hasil daur ulang setengah jadi industri kecil, untuk diproses lebih lanjut menjadi produk murni, maupun bahan baku impor
(saat ini dilarang).
Industri daur ulang aki bekas ini apabila tidak ditata dan tanpa penggunaan teknologi yang tepat akan berakibat buruk terhadap lingkungan dan kesehatan manusia dalam pengumpulan, pengangkutan maupun prosesnya. Pencemaran dari usaha daur ulang aki bekas ini adalah :
- Pencemaran udara yang berasal dari asap dan debu yang
mengandung logam berat Pb.
- Bau sulfur yang spesifik.
- Limbah cair yang mengandung asam sulfat
Kegiatan daur ulang ini rasanya tidak mungkin dilarang, hal ini dikarenakan daur ulang aki merupakan mata pencaharian dan dirasakan sangat menguntungkan oleh para pendaur ulang. Dilain pihak kesadaran akan bahaya dari racun logam berat timbal (Pb) yang termasuk bahan beracun berbahaya (B3) masih belum disadari oleh kebanyakan masyarakat terutama para
pendaur ulang. Oleh karena itu perlu adanya kerjasama masyarakat - pemerintah sehingga terbentuk kinerja daur ulang yang akrab lingkungan.
Daur ulang aki ditujukan untuk mengambil logam timbal (Pb) atau disebut juga ingot dan plastik box, untuk dimanfaatkan kembali. Teknologi yang digunakan juga bermacam-macam dari
yang sangat sederhana hingga teknologi tinggi, tetapi pada dasarnya logam timah diambil dengan cara reduksi-oksidasi (redoks) unsur timbal yang ada di dalam
Dari proses daur ulang tersebut dihasilkan 2 jenis material
yaitu :
1. Logam/Ingot timbal dimanfaatkan oleh :
- pabrik aki sebagi sel aki baru
- pabrik cat
- pabrik tabung TV
- keramik dan isolasi radio aktif
2. Plastik box dimanfaatkan oleh:
- pabrik aki
- pabrik plastik
Didalam melakukan daur ulang timah dikenal beberapa alternatif teknologi. Pemilihan teknologi ini akan menentukan disain peralatan yang akan dipergunakan.
Namun secara umum
dalam usaha daur ulang timah dikenal teknologi sebagai berikut:
a. Elektrokimia,
Yang dimaksud proses elektrokimia yaitu melakukan leaching
segala metal maupun ion Pb menjadi Pb2+ selanjutnya dengan
proses elektrolisis Pb2+ diubah menjadi Pb metal. Proses ini
jarang dilakukan oleh industri kecil menengah maupun rumah
tangga di Indonesia hal ini dikarenakan biaya investasi serta
operasional yang mahal.
b. Proses Redoks
Prosesd redoks dipergunakan reaktor, yang berbentuk kupola
maupun rotary kiln. Proses ini menggunakan karbon/arang
serta udara sebagai reduktor dan oksidator untuk melelehkan
sel aki menjadi timah cair. Suhu diperlukan untuk melelehkan
timah sehingga akan terpisah anatar timah dan pengotor
diantaranya sulfur.
Suhu operasi terjadi lebih dari 500O C. Proses ini banyak
dilakukan di Indonesia, baik dengan teknologi yang sangat
sederhana maupun yang sudah maju.
Teknologi yang berkembang di industri rumah tangga/IKM Indonesia saat ini biasanya hanya berupa kubangan di dalam tanah yang disebut “kuwen”. Prinsip operasi dari kuwen adalah dengan mencampur arang dan sel aki kemudian arang dinyalakan dengan menambah udara dari blower. Setelah sel timah mencair dipisahkan untuk dicetak. Debu logam berat berhamburan sehingga mencemari lingkungan.Teknologi tradisional tersebut sangat tidak aman karena polusi udara yang mengandung logam berat (B3) timah, sehingga membahayakan bagi para pendaur ulang sendiri maupun lingkungan. Disamping itu gas-gas sisa pembakaran SOx maupun NOx selain mengakibatkan pencemaran udara juga akan menimbulkan bau
spesifik sulfur. Untuk mengurangi pencemaran maka harus dilakukan pengisolasian sumber dampak, yaitu dengan memasang cerobong beserta perangkap debu. Bangunan cerobong bisa
dibuat dari batu bata yang di plaster. Ceroong ini bekerja karena ada tarikan vent serta efek chime.Dengan cara ini, diharapkan bisa mengurangi pencemaran daur ulang..
(Sumber:www.menlh.go.id)
Anoda : Pb(s) + SO4(aq)
2- PbSO4(s) + 2e-
Katoda : PbO2(s) + 4H+
(aq) + SO4(aq)
2-+ 2e- PbSO4(s) + 2H2O(l)
Pb(s) + PbO2(s) + 2H2SO4 (aq) PbSO4(s) + 2H2O(l)
Usaha daur ulang aki bekas telah banyak dilakukan oleh industri rumah tangga dan kecil tersebar di berbagai tempat, biasanya tempat-tempat yang terpencil. Industri daur ulang aki
jarang yang dilakukan oleh industri skala menengah-besar, hal ini dikarenakan usaha menengah-besar memerlukan biaya mobilisasi pengumpulan aki bekas yang besar untuk memenuhi kapasitasnya sehingga dirasakan lebih menguntungkan menerima hasil daur ulang setengah jadi industri kecil, untuk diproses lebih lanjut menjadi produk murni, maupun bahan baku impor
(saat ini dilarang).
Industri daur ulang aki bekas ini apabila tidak ditata dan tanpa penggunaan teknologi yang tepat akan berakibat buruk terhadap lingkungan dan kesehatan manusia dalam pengumpulan, pengangkutan maupun prosesnya. Pencemaran dari usaha daur ulang aki bekas ini adalah :
- Pencemaran udara yang berasal dari asap dan debu yang
mengandung logam berat Pb.
- Bau sulfur yang spesifik.
- Limbah cair yang mengandung asam sulfat
Kegiatan daur ulang ini rasanya tidak mungkin dilarang, hal ini dikarenakan daur ulang aki merupakan mata pencaharian dan dirasakan sangat menguntungkan oleh para pendaur ulang. Dilain pihak kesadaran akan bahaya dari racun logam berat timbal (Pb) yang termasuk bahan beracun berbahaya (B3) masih belum disadari oleh kebanyakan masyarakat terutama para
pendaur ulang. Oleh karena itu perlu adanya kerjasama masyarakat - pemerintah sehingga terbentuk kinerja daur ulang yang akrab lingkungan.
Daur ulang aki ditujukan untuk mengambil logam timbal (Pb) atau disebut juga ingot dan plastik box, untuk dimanfaatkan kembali. Teknologi yang digunakan juga bermacam-macam dari
yang sangat sederhana hingga teknologi tinggi, tetapi pada dasarnya logam timah diambil dengan cara reduksi-oksidasi (redoks) unsur timbal yang ada di dalam
Dari proses daur ulang tersebut dihasilkan 2 jenis material
yaitu :
1. Logam/Ingot timbal dimanfaatkan oleh :
- pabrik aki sebagi sel aki baru
- pabrik cat
- pabrik tabung TV
- keramik dan isolasi radio aktif
2. Plastik box dimanfaatkan oleh:
- pabrik aki
- pabrik plastik
Didalam melakukan daur ulang timah dikenal beberapa alternatif teknologi. Pemilihan teknologi ini akan menentukan disain peralatan yang akan dipergunakan.
Namun secara umum
dalam usaha daur ulang timah dikenal teknologi sebagai berikut:
a. Elektrokimia,
Yang dimaksud proses elektrokimia yaitu melakukan leaching
segala metal maupun ion Pb menjadi Pb2+ selanjutnya dengan
proses elektrolisis Pb2+ diubah menjadi Pb metal. Proses ini
jarang dilakukan oleh industri kecil menengah maupun rumah
tangga di Indonesia hal ini dikarenakan biaya investasi serta
operasional yang mahal.
b. Proses Redoks
Prosesd redoks dipergunakan reaktor, yang berbentuk kupola
maupun rotary kiln. Proses ini menggunakan karbon/arang
serta udara sebagai reduktor dan oksidator untuk melelehkan
sel aki menjadi timah cair. Suhu diperlukan untuk melelehkan
timah sehingga akan terpisah anatar timah dan pengotor
diantaranya sulfur.
Suhu operasi terjadi lebih dari 500O C. Proses ini banyak
dilakukan di Indonesia, baik dengan teknologi yang sangat
sederhana maupun yang sudah maju.
Teknologi yang berkembang di industri rumah tangga/IKM Indonesia saat ini biasanya hanya berupa kubangan di dalam tanah yang disebut “kuwen”. Prinsip operasi dari kuwen adalah dengan mencampur arang dan sel aki kemudian arang dinyalakan dengan menambah udara dari blower. Setelah sel timah mencair dipisahkan untuk dicetak. Debu logam berat berhamburan sehingga mencemari lingkungan.Teknologi tradisional tersebut sangat tidak aman karena polusi udara yang mengandung logam berat (B3) timah, sehingga membahayakan bagi para pendaur ulang sendiri maupun lingkungan. Disamping itu gas-gas sisa pembakaran SOx maupun NOx selain mengakibatkan pencemaran udara juga akan menimbulkan bau
spesifik sulfur. Untuk mengurangi pencemaran maka harus dilakukan pengisolasian sumber dampak, yaitu dengan memasang cerobong beserta perangkap debu. Bangunan cerobong bisa
dibuat dari batu bata yang di plaster. Ceroong ini bekerja karena ada tarikan vent serta efek chime.Dengan cara ini, diharapkan bisa mengurangi pencemaran daur ulang..
(Sumber:www.menlh.go.id)


2 komentar:
Posting Komentar